https://materialize-template-gisariweb.blogspot.com/
https://materialize-template-gisariweb.blogspot.com/search?updated-max=2016-02-11T20:48:00-08:00&max-results=7
index
AKU DAN WANITA MANIS ITU (PART 2)
Malam itu stasiun gambir cukup lengang. Aku lihat jam tangan kinetikku lagi. Sudah pukul sembilan malam. Aku menolehkan mukaku lagi ke gerbang masuk itu. Ini tidak biasa, Dara tidak pernah telat, dia tidak pernah terlambat. Akulah yang seharusnya telat.
Aku merogoh kantongku untuk mengambil HP. Entah kenapa aku tidak sedari tadi melongok HPku. Ada kelip putih disana. Tanda whatsapp ku ada pesan. Ada 10 miskol dari Dara dan 1 pesan yang masuk dan aku segera membukanya.

“Hi kris, please deh jgn disilent terus HPnya… bikin kesel, tau ga!!!.. ” tulisnya dgn smiley sangat marah.

Aku segera menelponnya.

Nada sambung itu berbunyi 3 kali sampai akhirnya Dara mengangkatnya.

“Ra… ada apa?? Kamu dimana?? Aku sudah di gambir, 10 menit lagi kereta kita berangkat… kamu dimana??”

Cukup lama aku menunggu jawaban dari dia.
close AKU DAN WANITA MANIS ITU (PART 2)
Malam itu stasiun gambir cukup lengang. Aku lihat jam tangan kinetikku lagi. Sudah pukul sembilan malam. Aku menolehkan mukaku lagi ke gerbang masuk itu. Ini tidak biasa, Dara tidak pernah telat, dia tidak pernah terlambat. Akulah yang seharusnya telat.
Aku merogoh kantongku untuk mengambil HP. Entah kenapa aku tidak sedari tadi melongok HPku. Ada kelip putih disana. Tanda whatsapp ku ada pesan. Ada 10 miskol dari Dara dan 1 pesan yang masuk dan aku segera membukanya.

“Hi kris, please deh jgn disilent terus HPnya… bikin kesel, tau ga!!!.. ” tulisnya dgn smiley sangat marah.

Aku segera menelponnya.

Nada sambung itu berbunyi 3 kali sampai akhirnya Dara mengangkatnya.

“Ra… ada apa?? Kamu dimana?? Aku sudah di gambir, 10 menit lagi kereta kita berangkat… kamu dimana??”

Cukup lama aku menunggu jawaban dari dia.
Kamis, Februari 04, 2016
Anak-Anak Kalong
“Gagahnya bapakmu, In!”

“Kereen! Bapakmu nangkep maling ya? Hebat!”

Pujian seperti itu sering terdengar di telinga saya. Sedari kecil. Pujian yang membuat saya merasa bangga. Pada seragamnya, pada titelnya, pada dirinya. Gagah, berani, dan sudah pasti disiplin. Di Asrama, pemandangan pria berseragam adalah hal biasa bagi anak-anak kalong, sebutan untuk anak-anak polisi seperti kami.

Kami terbiasa dengan lingkungan komando. Artinya patuh pada perintah. Tapi bukan berarti kami jadi takut. Anak-anak kalong justru pemberani, atau bisa dibilang sedikit bandel. Kami bermain di samping tembok penjara, berlari-lari di antara selasar mako ketika jam kantor usai, menyeberangi sungai pembatas asrama bahkan melintasi jalan raya dan menyetop mobil untuk sekedar menumpang ke sekolah.

Kata teman-teman saat saya dewasa, teman-teman yang bukan anak kalong merasa kalau kami itu dari kecil sudah dibiasakan untuk ‘korupsi’ karena kalau naik bis atau angkot tak mau bayar. Saya tertawa geli. Itu bukan karena kami tak mau membayar, tapi si supir bis atau angkotlah yang tak mau dibayar. Saat kami turun hendak membayar, mereka langsung kabur. Seringkali sebelum naik, kami sudah meminta agar dibiarkan membayar. Tapi tetap saja hal itu terjadi. Padahal sampai di rumah, kami juga dimarahi orangtua.

close Anak-Anak Kalong
“Gagahnya bapakmu, In!”

“Kereen! Bapakmu nangkep maling ya? Hebat!”

Pujian seperti itu sering terdengar di telinga saya. Sedari kecil. Pujian yang membuat saya merasa bangga. Pada seragamnya, pada titelnya, pada dirinya. Gagah, berani, dan sudah pasti disiplin. Di Asrama, pemandangan pria berseragam adalah hal biasa bagi anak-anak kalong, sebutan untuk anak-anak polisi seperti kami.

Kami terbiasa dengan lingkungan komando. Artinya patuh pada perintah. Tapi bukan berarti kami jadi takut. Anak-anak kalong justru pemberani, atau bisa dibilang sedikit bandel. Kami bermain di samping tembok penjara, berlari-lari di antara selasar mako ketika jam kantor usai, menyeberangi sungai pembatas asrama bahkan melintasi jalan raya dan menyetop mobil untuk sekedar menumpang ke sekolah.

Kata teman-teman saat saya dewasa, teman-teman yang bukan anak kalong merasa kalau kami itu dari kecil sudah dibiasakan untuk ‘korupsi’ karena kalau naik bis atau angkot tak mau bayar. Saya tertawa geli. Itu bukan karena kami tak mau membayar, tapi si supir bis atau angkotlah yang tak mau dibayar. Saat kami turun hendak membayar, mereka langsung kabur. Seringkali sebelum naik, kami sudah meminta agar dibiarkan membayar. Tapi tetap saja hal itu terjadi. Padahal sampai di rumah, kami juga dimarahi orangtua.

Selasa, Februari 02, 2016
Oh My Venus: Si Cinderella Modern, Cinderella tak Langsing
Biasanya setiap kali membahas drama Korea terbaru saya selalu menunggu sampai serialnya selesai tayang. Jadi sinopsisnya bisa lengkap. Tapi kali ini berbeda. Drama pilihan saya kali ini masih baru, fresh from the oven, baru sampai episode ke-6 12 dari 16 episode dan aktor serta aktris utamanya adalah… (je je je jeng!) So Ji Sub dan Shin Min-Ah.

Drama pilihan bulan Desember adalah Oh My Venus.

Cerita dimulai dengan flashback si aktris utama, Kang Joo-Eun, saat ia masih duduk di bangku SMU. Ia dikenal sebagai gadis tercantik di sekolahnya, bahkan di seluruh Daegu. Saking cantiknya, setiap kali Kang Joo-Eun naik bis, seluruh anak laki-laki hanya memandang dirinya. Julukannya adalah Si Venus dari Daegu.

Walaupun cantik jelita, Kang Joo-Eun cukup tegas saat berurusan dengan ketertiban. Ia tak segan menegur anak muda dari SMU lain, memarahi cowok-cowok penggemarnya yang mengecat pagar sekolah dengan namanya bahkan membela teman perempuannya yang gemuk, Oh Soo-Jin. Kang Joo-Eun bercita-cita menjadi seorang pengacara. Dengan kepercayaan diri yang tinggi, ia yakin mampu melakukan apapun selama ia menginginkannya dengan sungguh-sungguh.

close Oh My Venus: Si Cinderella Modern, Cinderella tak Langsing
Biasanya setiap kali membahas drama Korea terbaru saya selalu menunggu sampai serialnya selesai tayang. Jadi sinopsisnya bisa lengkap. Tapi kali ini berbeda. Drama pilihan saya kali ini masih baru, fresh from the oven, baru sampai episode ke-6 12 dari 16 episode dan aktor serta aktris utamanya adalah… (je je je jeng!) So Ji Sub dan Shin Min-Ah.

Drama pilihan bulan Desember adalah Oh My Venus.

Cerita dimulai dengan flashback si aktris utama, Kang Joo-Eun, saat ia masih duduk di bangku SMU. Ia dikenal sebagai gadis tercantik di sekolahnya, bahkan di seluruh Daegu. Saking cantiknya, setiap kali Kang Joo-Eun naik bis, seluruh anak laki-laki hanya memandang dirinya. Julukannya adalah Si Venus dari Daegu.

Walaupun cantik jelita, Kang Joo-Eun cukup tegas saat berurusan dengan ketertiban. Ia tak segan menegur anak muda dari SMU lain, memarahi cowok-cowok penggemarnya yang mengecat pagar sekolah dengan namanya bahkan membela teman perempuannya yang gemuk, Oh Soo-Jin. Kang Joo-Eun bercita-cita menjadi seorang pengacara. Dengan kepercayaan diri yang tinggi, ia yakin mampu melakukan apapun selama ia menginginkannya dengan sungguh-sungguh.

Selasa, Februari 02, 2016

JANDA

“Jangan pernah mengucapkan kata-kata itu!”

Tyas mengangkat wajahnya, menatap sahabatnya yang duduk di hadapannya. Gelas yang hampir sampai di mulut Tyas terhenti di udara, sebelum akhirnya ia letakkan kembali ke atas meja. Wajah Nola sudah berubah. Tak ada lagi senyum apalagi tawa di sudut bibirnya yang biasa melengkung dengan cantik itu. Ia pasti marah.

Tiap kali Tyas berkata ingin bercerai dengan suaminya, Nola selalu seperti itu. Ia akan mendengarkan semua keluhan Tyas tentang suaminya, ia juga akan tetap diam dan terus begitu sampai airmata Tyas akhirnya menetes. Saat itulah, Nola akan memeluk Tyas masih tanpa berkata apa-apa. Hanya saja, Nola akan berubah marah setiap kali Tyas mengucapkan keinginannya itu.

“Jangan bercerai! Jangan pernah menjadi janda, Yas! Jangan! Kamu akan sangat menyesal!”

“Kenapa sih, La? Aku heran sama kamu. Mau dengerin aku ngeluh panjang lebar, tapi giliran aku ngebahas soal perceraian, kamu selalu marah kayak begitu. Setelah menikah, sahabatku ya cuma kamu. Sekarang pernikahanku udah kayak neraka begini, aku mau bertahan bagaimana lagi? Kalau bukan sama kamu, sama siapa aku ngebahasnya? Setidaknya denganmu kan aku bisa tahu prosedur perceraian. Kau kan sudah pernah bercerai,” keluh Tyas.

0 0 https://materialize-template-gisariweb.blogspot.com/2016/02/janda.html http://materialize-template-gisariweb.blogspot.com/2016/02/janda.html Tidak ada komentar:

AKU DAN WANITA MANIS ITU (PART 1)

Entah kapan kebiasaan itu dimulai, tapi yang jelas sepertinya aku dan dia sudah mulai terbiasa. Kebiasaan ini mungkin belum pas untuk aku katakan sebagai rutinitas, tapi sepertinya kita berdua sama-sama menikmati dan hampir tidak pernah.. ya.. hampir tidak pernah melewatinya.
Seperti malam ini, dia sudah duduk di bangku itu, bangku yang sama ditempat makan yang sama. Seperti biasa pula, aku selalu saja yang sampai belakangan, bukan aku tidak bisa lebih dulu, tapi aku tidak mau kehilangan pemandangan indah itu. Moment disaat dia menunggu.

Tahukah kau bahwa saat ini aku meyakini bahwa menunggu itu tidak selalu membosankan?? Ya… sekarang aku meyakini itu. Tidak lain karena 3 kali seminggu aku memandangnya, senin rabu dan jumat aku memperhatikan wajahnya dari kejauhan ketika dia dengan wajah manisnya dan mata beningnya yang tidak pernah lepas dari smartphone yang dia genggam di tangan halusnya ketika menungguku.

Aku tau dia menunggu aku… dan mungkin dia juga tau kalau aku sedang “mengejar”nya.

0 0 https://materialize-template-gisariweb.blogspot.com/2016/02/aku-dan-wanita-manis-itu-part-1.html http://materialize-template-gisariweb.blogspot.com/2016/02/aku-dan-wanita-manis-itu-part-1.html Tidak ada komentar:

Senin, 01 Februari 2016

Kisah Ramadhan - Mama & Sepotong Roti


Sepuluh tahun yang lalu, di awal Ramadhan. Ketika semua orang bersiap menyambut kedatangan bulan penuh berkah. Saya juga sedang bersiap menyambut kedatangan ‘berkah’ yang sudah lama dinanti-nantikan seluruh keluarga. Empat tahun telah berlalu sebelum berkah itu menghampiri kami. Bahkan jatuh bangun, mencoba segalanya hanya agar senyum ceria seorang anak bisa menghiasi rumah tangga kami yang sunyi.
Dan saya masih ingat dengan jelas malam-malam yang terasa panjang setelah dokter mengumumkan jadwal operasi. Jadwal itu tepat dua hari sebelum Ramadhan tiba. Kami tak lagi bisa mundur karena kehamilan saya saat itu sudah lewat dua minggu dari tanggal kelahiran sseharusnya.

Ramadhan itu, saya menjadi Ibu, namun baru memahami arti ketulusan itu bertahun-tahun kemudian. Ketulusan dari seorang Ibu.

Hari itu, ketika sem
0 0 https://materialize-template-gisariweb.blogspot.com/2016/02/kisah-ramadhan-mama-sepotong-roti.html http://materialize-template-gisariweb.blogspot.com/2016/02/kisah-ramadhan-mama-sepotong-roti.html Tidak ada komentar:

Cinta Untuk Cinta


“Kamu tahu kenapa diberi nama Cinta, Cin?”

Sepasang mata bening Cinta mendongak menatap Emak penuh tanya. Tapi yang ditatap justru sedang menatap ke arah ombak pantai yang bergulung-gulung di hadapan mereka dengan sorot menerawang. Lalu Emak menunduk, tersenyum tipis. “Kamu tahu kenapa, Nak?”

Cinta menggeleng.

“Karena cintalah yang membuatmu terlahir ke dunia ini, Anakku. Kupatrikan dalam namamu agar kau mengerti alasanmu terlahir ke dunia ini.” Kata-kata Emak begitu lirih, seakan ia sendiri tak yakin akan semua yang dikatakannya sendiri.
“Tapi kenapa hanya Emak yang cinta padaku? Kenapa tidak Ayah, Mak?” cecar Cinta dengan mata yang masih bersisa airmata.
0 0 https://materialize-template-gisariweb.blogspot.com/2016/02/cinta-untuk-cinta.html http://materialize-template-gisariweb.blogspot.com/2016/02/cinta-untuk-cinta.html Tidak ada komentar:

Kontributor