“Jangan pernah mengucapkan kata-kata itu!”
Tyas mengangkat wajahnya, menatap sahabatnya yang duduk di hadapannya. Gelas yang hampir sampai di mulut Tyas terhenti di udara, sebelum akhirnya ia letakkan kembali ke atas meja. Wajah Nola sudah berubah. Tak ada lagi senyum apalagi tawa di sudut bibirnya yang biasa melengkung dengan cantik itu. Ia pasti marah.
Tiap kali Tyas berkata ingin bercerai dengan suaminya, Nola selalu seperti itu. Ia akan mendengarkan semua keluhan Tyas tentang suaminya, ia juga akan tetap diam dan terus begitu sampai airmata Tyas akhirnya menetes. Saat itulah, Nola akan memeluk Tyas masih tanpa berkata apa-apa. Hanya saja, Nola akan berubah marah setiap kali Tyas mengucapkan keinginannya itu.
“Jangan bercerai! Jangan pernah menjadi janda, Yas! Jangan! Kamu akan sangat menyesal!”
“Kenapa sih, La? Aku heran sama kamu. Mau dengerin aku ngeluh panjang lebar, tapi giliran aku ngebahas soal perceraian, kamu selalu marah kayak begitu. Setelah menikah, sahabatku ya cuma kamu. Sekarang pernikahanku udah kayak neraka begini, aku mau bertahan bagaimana lagi? Kalau bukan sama kamu, sama siapa aku ngebahasnya? Setidaknya denganmu kan aku bisa tahu prosedur perceraian. Kau kan sudah pernah bercerai,” keluh Tyas.
JANDA
0
0
https://materialize-template-gisariweb.blogspot.com/2016/02/janda.html
http://materialize-template-gisariweb.blogspot.com/2016/02/janda.html
Tidak ada komentar:
AKU DAN WANITA MANIS ITU (PART 1)
Entah kapan kebiasaan itu dimulai, tapi yang jelas sepertinya aku dan dia sudah mulai terbiasa. Kebiasaan ini mungkin belum pas untuk aku katakan sebagai rutinitas, tapi sepertinya kita berdua sama-sama menikmati dan hampir tidak pernah.. ya.. hampir tidak pernah melewatinya.
Seperti malam ini, dia sudah duduk di bangku itu, bangku yang sama ditempat makan yang sama. Seperti biasa pula, aku selalu saja yang sampai belakangan, bukan aku tidak bisa lebih dulu, tapi aku tidak mau kehilangan pemandangan indah itu. Moment disaat dia menunggu.
Tahukah kau bahwa saat ini aku meyakini bahwa menunggu itu tidak selalu membosankan?? Ya… sekarang aku meyakini itu. Tidak lain karena 3 kali seminggu aku memandangnya, senin rabu dan jumat aku memperhatikan wajahnya dari kejauhan ketika dia dengan wajah manisnya dan mata beningnya yang tidak pernah lepas dari smartphone yang dia genggam di tangan halusnya ketika menungguku.
Aku tau dia menunggu aku… dan mungkin dia juga tau kalau aku sedang “mengejar”nya.
Seperti malam ini, dia sudah duduk di bangku itu, bangku yang sama ditempat makan yang sama. Seperti biasa pula, aku selalu saja yang sampai belakangan, bukan aku tidak bisa lebih dulu, tapi aku tidak mau kehilangan pemandangan indah itu. Moment disaat dia menunggu.
Tahukah kau bahwa saat ini aku meyakini bahwa menunggu itu tidak selalu membosankan?? Ya… sekarang aku meyakini itu. Tidak lain karena 3 kali seminggu aku memandangnya, senin rabu dan jumat aku memperhatikan wajahnya dari kejauhan ketika dia dengan wajah manisnya dan mata beningnya yang tidak pernah lepas dari smartphone yang dia genggam di tangan halusnya ketika menungguku.
Aku tau dia menunggu aku… dan mungkin dia juga tau kalau aku sedang “mengejar”nya.
0
0
https://materialize-template-gisariweb.blogspot.com/2016/02/aku-dan-wanita-manis-itu-part-1.html
http://materialize-template-gisariweb.blogspot.com/2016/02/aku-dan-wanita-manis-itu-part-1.html
Tidak ada komentar:
Senin, 01 Februari 2016
Kisah Ramadhan - Mama & Sepotong Roti
Sepuluh tahun yang lalu, di awal Ramadhan. Ketika semua orang bersiap menyambut kedatangan bulan penuh berkah. Saya juga sedang bersiap menyambut kedatangan ‘berkah’ yang sudah lama dinanti-nantikan seluruh keluarga. Empat tahun telah berlalu sebelum berkah itu menghampiri kami. Bahkan jatuh bangun, mencoba segalanya hanya agar senyum ceria seorang anak bisa menghiasi rumah tangga kami yang sunyi.
Dan saya masih ingat dengan jelas malam-malam yang terasa panjang setelah dokter mengumumkan jadwal operasi. Jadwal itu tepat dua hari sebelum Ramadhan tiba. Kami tak lagi bisa mundur karena kehamilan saya saat itu sudah lewat dua minggu dari tanggal kelahiran sseharusnya.
Ramadhan itu, saya menjadi Ibu, namun baru memahami arti ketulusan itu bertahun-tahun kemudian. Ketulusan dari seorang Ibu.
Hari itu, ketika sem
0
0
https://materialize-template-gisariweb.blogspot.com/2016/02/kisah-ramadhan-mama-sepotong-roti.html
http://materialize-template-gisariweb.blogspot.com/2016/02/kisah-ramadhan-mama-sepotong-roti.html
Tidak ada komentar:
Cinta Untuk Cinta
Sepasang mata bening Cinta mendongak menatap Emak penuh tanya. Tapi yang ditatap justru sedang menatap ke arah ombak pantai yang bergulung-gulung di hadapan mereka dengan sorot menerawang. Lalu Emak menunduk, tersenyum tipis. “Kamu tahu kenapa, Nak?”
Cinta menggeleng.
“Karena cintalah yang membuatmu terlahir ke dunia ini, Anakku. Kupatrikan dalam namamu agar kau mengerti alasanmu terlahir ke dunia ini.” Kata-kata Emak begitu lirih, seakan ia sendiri tak yakin akan semua yang dikatakannya sendiri.
“Tapi kenapa hanya Emak yang cinta padaku? Kenapa tidak Ayah, Mak?” cecar Cinta dengan mata yang masih bersisa airmata.
0
0
https://materialize-template-gisariweb.blogspot.com/2016/02/cinta-untuk-cinta.html
http://materialize-template-gisariweb.blogspot.com/2016/02/cinta-untuk-cinta.html
Tidak ada komentar:
Langganan:
Postingan (Atom)