Anak-Anak Kalong
“Gagahnya bapakmu, In!”
“Kereen! Bapakmu nangkep maling ya? Hebat!”
Pujian seperti itu sering terdengar di telinga saya. Sedari kecil. Pujian yang membuat saya merasa bangga. Pada seragamnya, pada titelnya, pada dirinya. Gagah, berani, dan sudah pasti disiplin. Di Asrama, pemandangan pria berseragam adalah hal biasa bagi anak-anak kalong, sebutan untuk anak-anak polisi seperti kami.
Kami terbiasa dengan lingkungan komando. Artinya patuh pada perintah. Tapi bukan berarti kami jadi takut. Anak-anak kalong justru pemberani, atau bisa dibilang sedikit bandel. Kami bermain di samping tembok penjara, berlari-lari di antara selasar mako ketika jam kantor usai, menyeberangi sungai pembatas asrama bahkan melintasi jalan raya dan menyetop mobil untuk sekedar menumpang ke sekolah.
Kata teman-teman saat saya dewasa, teman-teman yang bukan anak kalong merasa kalau kami itu dari kecil sudah dibiasakan untuk ‘korupsi’ karena kalau naik bis atau angkot tak mau bayar. Saya tertawa geli. Itu bukan karena kami tak mau membayar, tapi si supir bis atau angkotlah yang tak mau dibayar. Saat kami turun hendak membayar, mereka langsung kabur. Seringkali sebelum naik, kami sudah meminta agar dibiarkan membayar. Tapi tetap saja hal itu terjadi. Padahal sampai di rumah, kami juga dimarahi orangtua.
close
Anak-Anak Kalong
“Gagahnya bapakmu, In!”
“Kereen! Bapakmu nangkep maling ya? Hebat!”
Pujian seperti itu sering terdengar di telinga saya. Sedari kecil. Pujian yang membuat saya merasa bangga. Pada seragamnya, pada titelnya, pada dirinya. Gagah, berani, dan sudah pasti disiplin. Di Asrama, pemandangan pria berseragam adalah hal biasa bagi anak-anak kalong, sebutan untuk anak-anak polisi seperti kami.
Kami terbiasa dengan lingkungan komando. Artinya patuh pada perintah. Tapi bukan berarti kami jadi takut. Anak-anak kalong justru pemberani, atau bisa dibilang sedikit bandel. Kami bermain di samping tembok penjara, berlari-lari di antara selasar mako ketika jam kantor usai, menyeberangi sungai pembatas asrama bahkan melintasi jalan raya dan menyetop mobil untuk sekedar menumpang ke sekolah.
Kata teman-teman saat saya dewasa, teman-teman yang bukan anak kalong merasa kalau kami itu dari kecil sudah dibiasakan untuk ‘korupsi’ karena kalau naik bis atau angkot tak mau bayar. Saya tertawa geli. Itu bukan karena kami tak mau membayar, tapi si supir bis atau angkotlah yang tak mau dibayar. Saat kami turun hendak membayar, mereka langsung kabur. Seringkali sebelum naik, kami sudah meminta agar dibiarkan membayar. Tapi tetap saja hal itu terjadi. Padahal sampai di rumah, kami juga dimarahi orangtua.
Selasa, Februari 02, 2016