Malam itu stasiun gambir cukup lengang. Aku lihat jam tangan kinetikku lagi. Sudah pukul sembilan malam. Aku menolehkan mukaku lagi ke gerbang masuk itu. Ini tidak biasa, Dara tidak pernah telat, dia tidak pernah terlambat. Akulah yang seharusnya telat.
Aku merogoh kantongku untuk mengambil HP. Entah kenapa aku tidak sedari tadi melongok HPku. Ada kelip putih disana. Tanda whatsapp ku ada pesan. Ada 10 miskol dari Dara dan 1 pesan yang masuk dan aku segera membukanya.
“Hi kris, please deh jgn disilent terus HPnya… bikin kesel, tau ga!!!.. ” tulisnya dgn smiley sangat marah.
Aku segera menelponnya.
Nada sambung itu berbunyi 3 kali sampai akhirnya Dara mengangkatnya.
“Ra… ada apa?? Kamu dimana?? Aku sudah di gambir, 10 menit lagi kereta kita berangkat… kamu dimana??”
Cukup lama aku menunggu jawaban dari dia.
“Halo… Ra… kamu ga papa??” Kataku akhirnya karena Dara tidak kunjung menjawab.
“Kris…” akhirnya dia bersuara.
“Ya…” jawabku lemah. Aku hampir yakin bahwa ada sesuatu yang terjadi.
“Aku masih dirumah… aku ga bisa ikut kamu ke semarang.. aku ga bisa ikut kamu kris…” jawabnya berat seolah ada yang menahan untuk dia keluarkan.
“Ada apa ra??” Jawabku berusaha sabar. Detak jantungku sudah mulai tidak berdetak normal.
“Maafkan aku kris, aku lemah… padahal kemarin aku sudah sangat yakin dengan keputusanku untuk pergi denganmu… tapi hari ini aku yakin bahwa apa yang aku lakukan selama ini salah… aku tidak jujur…” katanya kali ini jelas sekali kalau dara sedang menangis.
“Ada apa ra??” Aku ulang pertanyaanku dengan sekuat tenaga untuk tenang.
“Besok aku menikah kris… tolong jangan pernah hubungi aku lagi…” kata Dara dan setelah itu hanya suara terputusnya telpon yang aku dengar.
Aku terdiam, entah sudah berapa lama aku termenung di sini, distasiun tempat kami berjanji untuk keluar dari semuanya, menjauh dari segala batas, perbedaan dan ketidakkuatan aku dan dara untuk menahan segala adat dan istiadat yang sampai akhirnya kita memutuskan untuk meninggalkannya jauh-jauh dan pergi berdua, benar-benar hanya berdua. Karena kami merasa punya sesuatu yang cukup besar untuk bisa mengabaikan itu semua dan memulai semuanya lagi dari awal. dari sesuatu yang kita yakini itu tidak tertandingi. CINTA.
Aku kembali melongok jam kinetikku, pukul 01.15 pagi. tidak terasa sudah 3 jam aku termenung tidak jelas atas semua yang aku alami tadi.
Dari rasa percaya diri karena cinta hingga sekarang rasa paling terpuruk karena hal yang sama.
Aku meremas tiket kereta itu. Aku merobeknya dan melemparkannya ke tong sampah.
Entah apa yang akan aku perbuat nanti, yang jelas Dara sudah bisa membuatku hancur berkeping-keping.
Aku melangkah, entah kemana.
To be continued.
Sumber : http://ocehanburung.blogdetik.com/2015/01/21/aku-dan-wanita-manis-itu-part-2
AKU DAN WANITA MANIS ITU (PART 2)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Iklan
0
0
https://materialize-template-gisariweb.blogspot.com/2016/02/aku-dan-wanita-manis-itu-part-2.html
http://materialize-template-gisariweb.blogspot.com/2016/02/aku-dan-wanita-manis-itu-part-2.html
Tidak ada komentar: