https://materialize-template-gisariweb.blogspot.com/
https://materialize-template-gisariweb.blogspot.com/search/label/Anak
index
Cinta Untuk Cinta

“Kamu tahu kenapa diberi nama Cinta, Cin?”

Sepasang mata bening Cinta mendongak menatap Emak penuh tanya. Tapi yang ditatap justru sedang menatap ke arah ombak pantai yang bergulung-gulung di hadapan mereka dengan sorot menerawang. Lalu Emak menunduk, tersenyum tipis. “Kamu tahu kenapa, Nak?”

Cinta menggeleng.

“Karena cintalah yang membuatmu terlahir ke dunia ini, Anakku. Kupatrikan dalam namamu agar kau mengerti alasanmu terlahir ke dunia ini.” Kata-kata Emak begitu lirih, seakan ia sendiri tak yakin akan semua yang dikatakannya sendiri.
“Tapi kenapa hanya Emak yang cinta padaku? Kenapa tidak Ayah, Mak?” cecar Cinta dengan mata yang masih bersisa airmata.
close Cinta Untuk Cinta

“Kamu tahu kenapa diberi nama Cinta, Cin?”

Sepasang mata bening Cinta mendongak menatap Emak penuh tanya. Tapi yang ditatap justru sedang menatap ke arah ombak pantai yang bergulung-gulung di hadapan mereka dengan sorot menerawang. Lalu Emak menunduk, tersenyum tipis. “Kamu tahu kenapa, Nak?”

Cinta menggeleng.

“Karena cintalah yang membuatmu terlahir ke dunia ini, Anakku. Kupatrikan dalam namamu agar kau mengerti alasanmu terlahir ke dunia ini.” Kata-kata Emak begitu lirih, seakan ia sendiri tak yakin akan semua yang dikatakannya sendiri.
“Tapi kenapa hanya Emak yang cinta padaku? Kenapa tidak Ayah, Mak?” cecar Cinta dengan mata yang masih bersisa airmata.
Senin, Februari 01, 2016
Papamu Untukku Saja
Arisa terlonjak saat suara pintu dibanting keras. Dadanya berdegup kencang. Kakinya yang tadi asyik mengetuk lantai mengikuti irama musik pop Korea yang disetel Cinta langsung terdiam kaku. Ini bukan hal baru baginya mendengar bantingan pintu seperti itu. Tapi tiap kali Cinta melakukannya, ia tetap saja selalu terkejut. Dari kursi yang ia duduki, Arisa menatap Cinta yang masuk ke dalam kamarnya dengan bersungut-sungut.

“Gak boleh, Ris! Papa bilang sudah kesorean. Entar kita kemalaman di jalan,” ujar Cinta dengan bibir melengkung.

“Ya sudah, gak papa kok Cin. Besok saja. Kan masih sempat. Waktunya masih lama.”
“Iih, tapi aku gak yak
close Papamu Untukku Saja
Arisa terlonjak saat suara pintu dibanting keras. Dadanya berdegup kencang. Kakinya yang tadi asyik mengetuk lantai mengikuti irama musik pop Korea yang disetel Cinta langsung terdiam kaku. Ini bukan hal baru baginya mendengar bantingan pintu seperti itu. Tapi tiap kali Cinta melakukannya, ia tetap saja selalu terkejut. Dari kursi yang ia duduki, Arisa menatap Cinta yang masuk ke dalam kamarnya dengan bersungut-sungut.

“Gak boleh, Ris! Papa bilang sudah kesorean. Entar kita kemalaman di jalan,” ujar Cinta dengan bibir melengkung.

“Ya sudah, gak papa kok Cin. Besok saja. Kan masih sempat. Waktunya masih lama.”
“Iih, tapi aku gak yak
Sabtu, Januari 30, 2016
Tampilkan postingan dengan label Anak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Anak. Tampilkan semua postingan

Kontributor