Entah kapan kebiasaan itu dimulai, tapi yang jelas sepertinya aku dan dia sudah mulai terbiasa. Kebiasaan ini mungkin belum pas untuk aku katakan sebagai rutinitas, tapi sepertinya kita berdua sama-sama menikmati dan hampir tidak pernah.. ya.. hampir tidak pernah melewatinya.
Seperti malam ini, dia sudah duduk di bangku itu, bangku yang sama ditempat makan yang sama. Seperti biasa pula, aku selalu saja yang sampai belakangan, bukan aku tidak bisa lebih dulu, tapi aku tidak mau kehilangan pemandangan indah itu. Moment disaat dia menunggu.
Tahukah kau bahwa saat ini aku meyakini bahwa menunggu itu tidak selalu membosankan?? Ya… sekarang aku meyakini itu. Tidak lain karena 3 kali seminggu aku memandangnya, senin rabu dan jumat aku memperhatikan wajahnya dari kejauhan ketika dia dengan wajah manisnya dan mata beningnya yang tidak pernah lepas dari smartphone yang dia genggam di tangan halusnya ketika menungguku.
Aku tau dia menunggu aku… dan mungkin dia juga tau kalau aku sedang “mengejar”nya.
Tidak sedikitpun aku lihat rasa bosan ketika aku menyapa untuk mengalihkan wajah manisnya dari smartphone.
“Haiii…” kata dia singkat ketika tanpa kata aku duduk dihadapannya dengan senyum rindu yang tidak pernah hilang ketika wajahku bertemu dengannya. Senyum kecil dan naiknya pipi halus itu selalu bisa menghilangkan penatnya pekerjaan kantor yang hampir tiap hari aku lalui.
Aku masih diam dalam senyumku, belum puasnya mata ini memandang manis wajahnya tidak mampu untuk memerintahkan otakku untuk membalas sapaannya.
Dia mengerutkan dahi tanpa melepaskan senyum sambil menarik earphone yang menggantung di telinga kirinya. Kebiasaanya memang demikian, dia hanya menggunakan 1 earphonenya untuk telinga kirinya, sedangkan yang kanan dia biarkan begitu saja. Aku suka sekali melihat ornamen simple sebuah earphone ditelinga kirinya. Entah kenapa, ketika wajah manisnya dipadukan dgn sebelah earphone itu, seolah aku mendapati seorang wanita yang selalu bahagia dan selalu berfikiran positif untuk hal apapun… dan dia adalah wanita itu. Yang saat ini ada didepanku.
“Kok bengong?? Something happen??” Katanya sambil menaruh earphonenya ke meja makan sebuah restoran spesialis bebek kesukaan kita itu.
Aku menggeleng dan meraih tangannya.
“Taruh lagi earphone itu ke telingamu… aku tidak ingin kehilangan pemandangan paling indah dan paling menyejukkan terlalu cepat…” kataku keluar begitu saja.
Dia kembali mengerutkan dahinya dan mengikuti apa yang aku minta.
“Jangan mulai gombal deh… serius nih ga papa aku pake earphone??”
Aku hanya menggeleng dan terus menatapnya.
“Kamu manis…”kataku singkat.
Dia kembali mengerutkan dahi.
“Apa??” Kata dia kali ini dengan cepat mencopot earphone dari telinganya.
Aku senyum.. kata itu tidak aku ulang lagi. Dan aku menyapanya…
“Makasih udah mau nunggu…” kataku.
Dia cuma senyum dan bilang… “pleasure kris… so.. kita pesan ya?? Seperti biasa khan?? “
Aku mengangguk… tidak banyak kata yg bisa aku keluarkan ketika bidadari ini ada didepanku.
Semoga saja dia bisa mengerti bahwa diamku adalah pelukan ter erat dan rindu terbesar yang bisa aku berikan padanya.
Dan dari wajah manis itulah cerita ini dimulai…
To be continued…
Sumbaer : http://ocehanburung.blogdetik.com/2015/01/21/aku-dan-wanita-manis-itu-part-1
AKU DAN WANITA MANIS ITU (PART 1)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Iklan
0
0
https://materialize-template-gisariweb.blogspot.com/2016/02/aku-dan-wanita-manis-itu-part-1.html
http://materialize-template-gisariweb.blogspot.com/2016/02/aku-dan-wanita-manis-itu-part-1.html
Tidak ada komentar: