https://materialize-template-gisariweb.blogspot.com/
https://materialize-template-gisariweb.blogspot.com/search/label/Fiksi
index
AKU DAN WANITA MANIS ITU (PART 6)
Ruangan menjadi cukup riuh, dan aku masih berdiri dengan tangan menunjuk keatas.
“Saya hanya mengutarakan apa yang saya rasakan pak… tapi saya harap keberatan saya tidak menghambat prosesi akad nikah ini, terima kasih…” kataku kencang agar terdengar oleh penghulu yg jauh didepan sana.

Setelah itu aku berjalan keluar, aku tidak pedulikan pandangan orang padaku, rasa maluku sudah tertutup oleh rasa sakit hatiku atas semua ini. Dalam kepalaku hanya satu. Aku harus mengakhiri ini semua. Selamanya. Ini semua Karena wanita manis itu… Dara.

aku menuju jembatan penyebrangan itu. Aku diam ketika sampai ditengahnya. Aku memandang jauh keujung jalan raya yang sangat terlihat berujung lancip, berusaha mengingat semuanya. Semua runutan kejadian hingga aku berada di jembatan ini. Aku semakin menyadari bahwa tidak ada yang bisa mengembalikan apa yang aku sudah perbuat tadi. Rasa malu, sakit hati, dikecewakan dan rasa yang paling menyakitkan itu… rasa ketika kau meyakininya bahwa hatimu telah terisi, namun tarnyata itu hanya ilusiku saja, yang nyata adalah hilang… kosong… dan hampa.

close AKU DAN WANITA MANIS ITU (PART 6)
Ruangan menjadi cukup riuh, dan aku masih berdiri dengan tangan menunjuk keatas.
“Saya hanya mengutarakan apa yang saya rasakan pak… tapi saya harap keberatan saya tidak menghambat prosesi akad nikah ini, terima kasih…” kataku kencang agar terdengar oleh penghulu yg jauh didepan sana.

Setelah itu aku berjalan keluar, aku tidak pedulikan pandangan orang padaku, rasa maluku sudah tertutup oleh rasa sakit hatiku atas semua ini. Dalam kepalaku hanya satu. Aku harus mengakhiri ini semua. Selamanya. Ini semua Karena wanita manis itu… Dara.

aku menuju jembatan penyebrangan itu. Aku diam ketika sampai ditengahnya. Aku memandang jauh keujung jalan raya yang sangat terlihat berujung lancip, berusaha mengingat semuanya. Semua runutan kejadian hingga aku berada di jembatan ini. Aku semakin menyadari bahwa tidak ada yang bisa mengembalikan apa yang aku sudah perbuat tadi. Rasa malu, sakit hati, dikecewakan dan rasa yang paling menyakitkan itu… rasa ketika kau meyakininya bahwa hatimu telah terisi, namun tarnyata itu hanya ilusiku saja, yang nyata adalah hilang… kosong… dan hampa.

Jumat, Februari 12, 2016
AKU DAN WANITA MANIS ITU (PART 5)
“Siapa pria itu ra?? ” tanya vina pelan sambil berusaha melihat wajah dara yang menunduk.
“Siapa raaa…??” Tanyanya lagi karena dara tidak juga menjawabnya.

“Tapi hubungan kalian masih normal khan?? Ga terjadi apa-apa khan?? Mmmm.. terutama denganmu?? Ga papa khan?? Elo ngerti maksud gue khan ra?? Jawab ra!..” kata vina mengguncang pundak dara.

Dara menggeleng.

“Aku baik-baik saja vin… bahkan teramat baik ketika aku didekatnya. dia sangat menghargai dan menghormatiku, dan yang paling unik, dia menyukai kebiasaanku dengan smartphoneku. yang justru kau bilang itu kebiasaan buruk. dia baik dan aku baik-baik saja…” kata dara akhirnya.

Vina mengelus dadanya. Rasa lega yang teramat sangat tampak diwajahnya.

“Syukurlah ra…” katanya dan seolah tidak terjadi apa-apa.

“Aku ragu vin…bukankah kalau ragu maka kita harus meninggalkannya vin.. begitu khan?? ” kata dara tertunduk.

Vina melototkan matanya, dan menggerakkan telunjuknya diwajah lemas dara.

“Kamu gila ya… dara… daraa… dengar apa yang s
close AKU DAN WANITA MANIS ITU (PART 5)
“Siapa pria itu ra?? ” tanya vina pelan sambil berusaha melihat wajah dara yang menunduk.
“Siapa raaa…??” Tanyanya lagi karena dara tidak juga menjawabnya.

“Tapi hubungan kalian masih normal khan?? Ga terjadi apa-apa khan?? Mmmm.. terutama denganmu?? Ga papa khan?? Elo ngerti maksud gue khan ra?? Jawab ra!..” kata vina mengguncang pundak dara.

Dara menggeleng.

“Aku baik-baik saja vin… bahkan teramat baik ketika aku didekatnya. dia sangat menghargai dan menghormatiku, dan yang paling unik, dia menyukai kebiasaanku dengan smartphoneku. yang justru kau bilang itu kebiasaan buruk. dia baik dan aku baik-baik saja…” kata dara akhirnya.

Vina mengelus dadanya. Rasa lega yang teramat sangat tampak diwajahnya.

“Syukurlah ra…” katanya dan seolah tidak terjadi apa-apa.

“Aku ragu vin…bukankah kalau ragu maka kita harus meninggalkannya vin.. begitu khan?? ” kata dara tertunduk.

Vina melototkan matanya, dan menggerakkan telunjuknya diwajah lemas dara.

“Kamu gila ya… dara… daraa… dengar apa yang s
Jumat, Februari 12, 2016
AKU DAN WANITA MANIS ITU (PART 4)
Pasangan Nama pada janur kuning itu cukup lama aku pandangi. Nama Dara dan Ridwan terpampang di atas kertas menggantung yang tidak henti diterpa angin.
Aku sedang menguatkan hatiku untuk hadir diacara akad nikahnya walau aku tidak diundang. Tidak cukup sulit bagiku mengetahui dimana dara akan menikah. Karena kami satu kantor. Undangan itu sudah dikirim minggu lalu.

Aku masih ingat betapa terkejutnya aku ketika itu waktu aku tau bahwa nama pada undangan itu adalah dia.

Aku beranjak dari kursiku. Aku menggenggam undangan itu. Aku menarik nafas ketika aku sudah dekat meja kerjanya. Tertutupnya hubungan kami bahkan dilingkungan kantorpun membuat aku tidak berkata apa-apa ketika ada dihadapannya dan meletakkan undangan itu didepan komputernya.

Dara tidak berkata apa-apa, dia berdiri dan langsung menarikku keluar ruangan kantor. Belum banyak orang pagi itu. Hanya beberapa kawan kantor dara yang cukup terkejut ketika tiba-tiba dara menggenggam tanganku dan menarikku keluar.

close AKU DAN WANITA MANIS ITU (PART 4)
Pasangan Nama pada janur kuning itu cukup lama aku pandangi. Nama Dara dan Ridwan terpampang di atas kertas menggantung yang tidak henti diterpa angin.
Aku sedang menguatkan hatiku untuk hadir diacara akad nikahnya walau aku tidak diundang. Tidak cukup sulit bagiku mengetahui dimana dara akan menikah. Karena kami satu kantor. Undangan itu sudah dikirim minggu lalu.

Aku masih ingat betapa terkejutnya aku ketika itu waktu aku tau bahwa nama pada undangan itu adalah dia.

Aku beranjak dari kursiku. Aku menggenggam undangan itu. Aku menarik nafas ketika aku sudah dekat meja kerjanya. Tertutupnya hubungan kami bahkan dilingkungan kantorpun membuat aku tidak berkata apa-apa ketika ada dihadapannya dan meletakkan undangan itu didepan komputernya.

Dara tidak berkata apa-apa, dia berdiri dan langsung menarikku keluar ruangan kantor. Belum banyak orang pagi itu. Hanya beberapa kawan kantor dara yang cukup terkejut ketika tiba-tiba dara menggenggam tanganku dan menarikku keluar.

Jumat, Februari 12, 2016
Tampilkan postingan dengan label Fiksi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Fiksi. Tampilkan semua postingan

AKU DAN WANITA MANIS ITU (PART 3)

Baju pengantin itu sudah dara kenakan. Gaun putih bersih dengan banyak kristal bening menaburi tiap sisinya terlihat sangat cocok membalut tubuh dara. Dara masih diam didepan kaca ketika perias pengantin yang tidak lain adalah sahabatnya sendiri mendekatinya dan memegang lembut pundaknya.
“Apa yang akan kau lalui hari ini untuk sebagian orang adalah mimpi paling indahnya ra, dan ridwan adalah pria terbaik sepanjang yang aku tau. Ayahmu sudah memilihkan pria terhormat untuk putri tercintanya. Karenanya… angkatlah sedikit bibirmu agar senyum manis yang aku sudah sangat hafal itu kembali bisa aku lihat… ya… ayolah…” kata vina sambil memegang alat make up untuk memulas pipi dara dengan senyum hangatnya.

Dara tersenyum, dia menggenggam tangan vina dengan erat. Vina adalah sahabat terbaiknya, hampir apapun yang terjadi pada dirinya, vina pasti mengetahuinya. Tapi tidak untuk satu hal itu.

“Vin…” kata dara.

“Ya ra…” kata vina sambil terus memulas wajah dara.

“Waktu kamu menikah 2 tahun lalu, apakah perasaan yang aku rasakan ini muncuk juga??” Tanya dara.
0 0 https://materialize-template-gisariweb.blogspot.com/2016/02/aku-dan-wanita-manis-itu-part-3.html http://materialize-template-gisariweb.blogspot.com/2016/02/aku-dan-wanita-manis-itu-part-3.html Tidak ada komentar:

Kamis, 04 Februari 2016

AKU DAN WANITA MANIS ITU (PART 2)

Malam itu stasiun gambir cukup lengang. Aku lihat jam tangan kinetikku lagi. Sudah pukul sembilan malam. Aku menolehkan mukaku lagi ke gerbang masuk itu. Ini tidak biasa, Dara tidak pernah telat, dia tidak pernah terlambat. Akulah yang seharusnya telat.
Aku merogoh kantongku untuk mengambil HP. Entah kenapa aku tidak sedari tadi melongok HPku. Ada kelip putih disana. Tanda whatsapp ku ada pesan. Ada 10 miskol dari Dara dan 1 pesan yang masuk dan aku segera membukanya.

“Hi kris, please deh jgn disilent terus HPnya… bikin kesel, tau ga!!!.. ” tulisnya dgn smiley sangat marah.

Aku segera menelponnya.

Nada sambung itu berbunyi 3 kali sampai akhirnya Dara mengangkatnya.

“Ra… ada apa?? Kamu dimana?? Aku sudah di gambir, 10 menit lagi kereta kita berangkat… kamu dimana??”

Cukup lama aku menunggu jawaban dari dia.
0 0 https://materialize-template-gisariweb.blogspot.com/2016/02/aku-dan-wanita-manis-itu-part-2.html http://materialize-template-gisariweb.blogspot.com/2016/02/aku-dan-wanita-manis-itu-part-2.html Tidak ada komentar:

Selasa, 02 Februari 2016

AKU DAN WANITA MANIS ITU (PART 1)

Entah kapan kebiasaan itu dimulai, tapi yang jelas sepertinya aku dan dia sudah mulai terbiasa. Kebiasaan ini mungkin belum pas untuk aku katakan sebagai rutinitas, tapi sepertinya kita berdua sama-sama menikmati dan hampir tidak pernah.. ya.. hampir tidak pernah melewatinya.
Seperti malam ini, dia sudah duduk di bangku itu, bangku yang sama ditempat makan yang sama. Seperti biasa pula, aku selalu saja yang sampai belakangan, bukan aku tidak bisa lebih dulu, tapi aku tidak mau kehilangan pemandangan indah itu. Moment disaat dia menunggu.

Tahukah kau bahwa saat ini aku meyakini bahwa menunggu itu tidak selalu membosankan?? Ya… sekarang aku meyakini itu. Tidak lain karena 3 kali seminggu aku memandangnya, senin rabu dan jumat aku memperhatikan wajahnya dari kejauhan ketika dia dengan wajah manisnya dan mata beningnya yang tidak pernah lepas dari smartphone yang dia genggam di tangan halusnya ketika menungguku.

Aku tau dia menunggu aku… dan mungkin dia juga tau kalau aku sedang “mengejar”nya.

0 0 https://materialize-template-gisariweb.blogspot.com/2016/02/aku-dan-wanita-manis-itu-part-1.html http://materialize-template-gisariweb.blogspot.com/2016/02/aku-dan-wanita-manis-itu-part-1.html Tidak ada komentar:

Senin, 01 Februari 2016

Kisah Ramadhan - Mama & Sepotong Roti


Sepuluh tahun yang lalu, di awal Ramadhan. Ketika semua orang bersiap menyambut kedatangan bulan penuh berkah. Saya juga sedang bersiap menyambut kedatangan ‘berkah’ yang sudah lama dinanti-nantikan seluruh keluarga. Empat tahun telah berlalu sebelum berkah itu menghampiri kami. Bahkan jatuh bangun, mencoba segalanya hanya agar senyum ceria seorang anak bisa menghiasi rumah tangga kami yang sunyi.
Dan saya masih ingat dengan jelas malam-malam yang terasa panjang setelah dokter mengumumkan jadwal operasi. Jadwal itu tepat dua hari sebelum Ramadhan tiba. Kami tak lagi bisa mundur karena kehamilan saya saat itu sudah lewat dua minggu dari tanggal kelahiran sseharusnya.

Ramadhan itu, saya menjadi Ibu, namun baru memahami arti ketulusan itu bertahun-tahun kemudian. Ketulusan dari seorang Ibu.

Hari itu, ketika sem
0 0 https://materialize-template-gisariweb.blogspot.com/2016/02/kisah-ramadhan-mama-sepotong-roti.html http://materialize-template-gisariweb.blogspot.com/2016/02/kisah-ramadhan-mama-sepotong-roti.html Tidak ada komentar:

Jumat, 29 Januari 2016

Rumah Tangga : Bodoh & Idiot


Bingung seakan tak berujung saat mengaitkan dua alis mataku seakan-akan mereka bertemu kalau lagi berpikir keras seperti sekarang. Aku berharap kekuatan berpikirku akan bertambah dua kali lipat kalau melakukannya. Setidaknya aku bisa menemukan jawaban dari kebingungan yang berputar-putar memenuhi otak.

“Tante bodoh, ” jawab Tante Dessy spontan.

“Dan Om idiot, ” timpal Om Burhan menyusul istrinya. Sebelumnya keduanya tertawa bersamaan.

Maksudnya apa? Padahal aku bertanya apa rahasia kemesraan mereka yang seperti tidak pernah luntur walaupun waktu berlalu lebih dari tiga puluh tahun itu. Tapi mereka justru menjawab dengan dua kalimat singkat yang membingungkan itu. Sampai pagi ini pun, aku masih belum bisa memahami makna di balik jawaban itu.

“Pagi-pagi begini lagi mikir apa, Din?” Yang dipikirkan ternyata muncul di belakangku. Tampak santai dalam balutan piyama katun warna pink.

“Mikirin Tante sama Om,” jawabku sambil menyesap kopi di mug.

Tante menatapku. Matanya membulat. “Kami?” Lalu ia seperti teringat sesuatu. “Apa karena jawaban kami semalam?”

Aku menjawab dengan anggukan. Lagi-lagi Tante tertawa seperti semalam. Aku langsung merengut.

“Apa aku harus jadi orang bodoh kalau ingin mempertahankan pernikahanku dengan Amri?”

Tante tertawa makin geli.

“Tanteee!!”

Bukannya berhenti, Tante justru semakin tertawa geli.

“Ada apa sih? Becanda apaan?” Kepala Om Burhan muncul dari balik pintu dapur. Tak seperti Tante, Om Burhan sudah mengenakan pakaian kerja yang rapi. Kemeja warna biru muda pupus dipadu celana pantopel berwarna hitam membungkus tubuhnya yang mulai tambun. Tapi sisa-sisa ketampanan dan tubuh atletis yang terbiasa berolahraga masih terlihat jelas melekat pada lelaki yang hampir memasuki usia setengah abad.

“Ini loh, Mas. Si Dini nih… Dia mikirin jawaban kita semalam. Itu loh yang soal pernikahan. Terus dia malah nanya… apa aku harus jadi orang bodoh kalau ingin mempertahankan pernikahanku dengan Amri?” Tante Dessy menirukan gayaku yang dingin saat melontarkan pertanyaanku tadi. Kali ini malah Om Burhan yang terkekeh. Lelaki setengah baya itu mendekati istrinya.

“Aah… beneran. Dini bener-bener pengen tahu, Tan, Om. Malah ditertawai sih.”

Om Burhan menepuk bahuku. “Ya, jadilah orang bodoh untuk mempertahankan pernikahanmu, Din.” Ia pun menoleh pada istrinya dengan tatapan sayang. “Saya mau pergi dulu, Sayang.”

Tante Dessy mengangguk dan mereka keluar dari dapur.

Lagi-lagi aku termenung dalam kebingungan. Bodoh dan idiot. Mengapa harus kedua hal itu? Bahkan aku yang sudah menjalani pernikahan lebih dari lima tahun, tak bisa memahami maksud di balik kedua kata-kata itu.

Tapi, Tante Dessy dan Om Burhan adalah dua orang tua yang kuhormati setelah kedua orangtuaku sendiri. Hubungan mereka memang selalu mesra dan tak pernah berubah. Keduanya saling mendukung dan menerima satu sama lain. Satu saat mereka kehilangan satu-satunya putri tercinta saat baru berusia tiga tahun, hubungan mereka justru semakin kuat. Pernikahan mereka yang membuatku terinspirasi memiliki pernikahan yang seindah hubungan mereka. Itulah sebabnya aku memilih menikah di usia yang menurut orangtuaku sendiri masih sangat muda. Aku yakin, belajar dari pernikahan Tante Dessy dan Om Burhan akan membuatku bisa membangun pernikahan yang harmonis pula.

Hanya saja, menjalani pernikahan itu tak semudah mengkhayalkannya. Sulit sekali menyamakan pendapat apalagi mencapai kesepakatan dalam berbagai hal. Semakin aku mengenal Amri, semakin aku tahu kalau kami begitu berbeda. Bahkan kini, setelah lima tahun, aku sedang berpikir untuk mengakhiri pernikahan kami. Karena tak tahan lagi, aku memutuskan untuk berpisah dan tinggal sementara di rumah Tante Dessy sampai aku bisa menemukan jawaban apa yang ingin kulakukan. Tetap menikah atau bercerai darinya.

Semalam ketika aku menceritakan masalahku, Tante dan Om justru memberikan solusi yang membuatku keningku berkerut dan sekarang mereka menertawaiku.

Apa maksudnya?

***

“Din, kita harus bicara. Kita tak bisa begini terus.” Aku menunduk semakin dalam. Amri mengguncang pundakku.

“Aku tak mau bercerai, Din. Aku sayang kamu. Apapun yang terjadi, kita tak boleh berpisah.”

“Tapi aku tak tahan, Mas. Sudah lima tahun kita belum juga punya anak. Aku tidak tahan disindir terus menerus oleh orangtuamu. Dan kau tak pernah ada di rumah. Aku capek sendirian menghadapi sindiran keluargamu.”

“Ya Allah, Dini… aku kan kerja. Cuekin saja sindiran itu. Mereka sudah punya banyak cucu. Dulu kamu bisa menutup mata dan telinga untuk itu. Kenapa sekarang tidak?” kilah Amri tak mau kalah.

“Karena aku juga manusia, Mas. Aku tidak tahan! Pokoknya aku sudah tidak tahan! Kita bercerai saja!” ujarku lagi. Aku langsung menyesalinya.

“Astaghfirullah, Din. Istighfar. Jangan ulangi kata-kata itu! Itu tidak baik.” Tubuhku sendiri bergidik mendengar kata-kata itu. Kata-kata yang meluncur begitu saja.

Aku menatap Mas Amri. Matanya yang teduh semakin sayu dan wajahnya terlihat lelah. Perasaan bersalah bergelayut dalam hatiku. Tapi dia memang bersalah. Andaikan ia lebih banyak menemaniku di rumah, mungkin Ibunya takkan sering menyiksaku dengan keinginannya menggendong anak yang akan kulahirkan. Lima tahun aku lalui dengan susah payah dan sekarang aku benar-benar tak tahan lagi.

“Maaf, Mas. Tapi sungguh… ada saatnya kita harus menyerah. Aku menyerah sekarang. Pulanglah. Aku capek,” bisikku pelan.

“Iya saya pulang sekarang. Tapi tolong, Din. Pikirkanlah soal kita. Aku sangat sayang padamu.” Mas Amri meraih kepalaku, mencium keningku dan memelukku erat sebelum keluar dari dalam kamar.

Aku juga kangen kamu, Mas. Kangen sekali. Tapi aku tidak ingin kembali ke rumah di mana Ibu dan Ayahmu menganggapku sebagai menantu dengan rahim mandul. Aku juga tak tega membayangkan dirimu tanpa anak seumur hidupmu padahal duniamu adalah dunia yang berhubungan dengan banyak anak-anak. Jika bisa membuatmu bahagia nantinya, aku rela mengorbankan segalanya untukmu, sayang.

***

“Kamu benar-benar bodoh, Din!”

Aku mendongak menatap Tisya. Bodoh? Barusan dia mengatakan aku bodoh?

“Kamu bodoh kalau menganggap perceraian yang hanya akan menguntungkan Amri sebagai jalan terbaik. Terus kamu dapat apa? Lima tahun kamu jadi istrinya. Kalau bukan karena kamu, mana mungkin Amri itu bisa jadi kayak sekarang? Dulu kan dia bandelnya setengah mati. Tapi setelah ngawinin kamu, dia jadi pegawai paling teladan di kantor. Sekarang setelah dia jadi Manager dan kalian bakal punya rumah sendiri, kamu mau bercerai hanya supaya dia bisa punya keturunan dari perempuan lain? Dasar bodoh!”

Aku tercenung. Bukan karena kata-kata Tisya. Tapi karena ia menyebutku bodoh. Kata-kata bodoh membuatku teringat resep Tante Dessy dan Om Burhan.

Bodoh? Apa maksudnya seperti ini? Apa karena Tante Dessy menganggap dirinya bodoh sehingga ia menutup segala kemungkinan memikirkan hal-hal ‘pintar’ yang bisa membuatnya terpisah dari Om Burhan?

Aku ingat salah satu keponakan yang terlahir dengan kebutuhan khusus. Ibunya tak menganggapnya idiot atau bodoh, walaupun semua orang menganggapnya seperti itu. Ia selalu bilang bahwa memiliki anak seperti itu adalah keberuntungan luar biasa. Anaknya selalu tertawa dan tersenyum menghadapi cemoohan dan hinaan orang lain di sekitar mereka. Anaknya takkan memikirkan apa yang dipikirkan orang lain tentang dirinya. Anaknya akan selalu bahagia dan senang. Itulah keberuntungan luar biasa yang tak dimiliki anak-anak lain. Ia tak memikirkan perasaan atau apa kata orang, ia berpikir dengan apa yang dirasakan oleh hatinya.

Aku memang terlahir cerdas. Terlalu cerdas malah. Semua orang tahu itu. Sampai aku tak memahami bahwa menjadi ‘bodoh’ sebenarnya bisa jadi menguntungkan. Andaikan aku tidak memahami maksud dan sindiran di balik sikap atau kata-kata mertuaku selama ini, andaikan aku bersikap masa bodoh pada apa yang mereka ucapkan dan semata-mata hanya memikirkan apa yang bisa membuat mereka tersenyum dan tertawa. Andaikan aku tak menganggap penting semua kata-kata orang lain. Andaikan aku sekali-sekali berpikir menggunakan hatiku sendiri. Andaikan… ya andaikan aku benar-benar seperti keponakanku. Aku tertawa pahit. Airmataku mengalir.

“Din? Dini, kamu baik-baik saja?”

Aku menatap Tisya. Mengangguk. Terima kasih Tisya. Kau membuatku memahami sesuatu. Sekarang saatnya menjadi orang bodoh itu.

***

Mas Amri terkejut. Ia bahkan langsung berdiri melihatku berdiri diam di balik dinding kaca yang membatasi ruang meeting dan lorong kantor. Tanpa peduli tatapan para staf yang kebingungan, Mas Amri langsung keluar menemuiku.

“Ada apa, Din? Ada apa? Kenapa menangis?” tanyanya panik, menyentuh pundakku. Dia memeriksaku dari wajah hingga kaki.

Aku menggeleng. Melemparkan senyum paling bodoh di dunia. Mulai sekarang aku ingin jadi si bodoh itu. Akan kututup semua indraku dari semua hal yang membuatku terpisah darinya.

“Aku ingin terus jadi istrimu, Mas. Aku akan jadi bodoh, tuli ataupun bisu. Aku sayang kamu, Mas.”

Mas Amri terpana. Sebelum akhirnya tersenyum. “Dinii… kamu ini… ” Ia menarikku masuk ke ruang kantornya sebelum para staf menyadari apa yang terjadi dan menertawai tingkah kami berdua.

Di dalam ruang kerjanya, Mas Amri memelukku dengan tidak sabar.

“Sebelum kamu bilang begitupun, aku sudah berencana melakukan banyak hal bodoh untukmu, Din. Aku bekerja keras supaya kita bisa tinggal berdua di rumah yang bagus. Tapi kalau itu membuatmu kesepian, aku akan berhenti bekerja kalau perlu. Bossku juga sudah bilang aku bodoh. Tapi aku tak bisa bekerja karena otakku penuh memikirkan cara membuatmu kembali. Syukurlah.. syukurlah…”

“Ya Allah, Mas. Maafin aku ya. Aku tak tahu kalau aku membuatmu begitu. Jangan, jangan berhenti kerja dulu. Kita belum mengganti mobil tua kita, Mas. Dan Mas kan belum pernah ngajak aku ke Bali. Tunggu, tunggu sampai Mas bisa ngajak aku bulan madu kedua ke Bali ya?” ucapku kalem.

Mas Amri tertawa terbahak-bahak dan ia mengangguk setuju.

*****

Ada saat kita menjadi bodoh atau pintar tergantung situasinya. Namun situasi dalam pernikahan itu sangat khusus. Kita harus menyatukan dua visi, dua tujuan, dua keinginan dan dua misi. Jika yang satu tidak dapat mempertimbangkan kebenaran atau kebaikan dari yang lain, maka keduanya tidak akan pernah bertemu. Jika setiap orang berpasangan selalu menganggap dirinya lebih benar atau lebih pintar dari pasangannya, maka sikap egoislah yang akan terjadi sehingga takkan ada cinta yang bisa dipersatukan.

Tak ada yang sempurna. Dalam kehidupan pernikahan, selalu ada onak dan halangan. Ketika kita tak bisa menutup mata dan telinga, bersabar dan masa bodoh terhadap kata-kata atau sindiran orang lain, maka selamanya kita akan terkurung oleh kata-kata itu sendiri.

Jadi kata ‘bodoh’ dan ‘idiot’ di sini bukan bermaksud untuk menghina diri sendiri atau pasangan, tapi menyiratkan pesan agar bisa ‘merendahkan’ diri untuk mengurangi perbedaan dan menghilangkan segala aspek negatif dari sikap dominan yang mungkin muncul untuk mengganggu keutuhan rumah tangga, dengan kata lain yaitu saling mengalah untuk kepentingan bersama.

http://bundaiin.blogdetik.com/2014/12/8/rumah-tangga-bodoh-idiot
0 0 https://materialize-template-gisariweb.blogspot.com/2016/02/rumah-tangga-bodoh-idiot.html http://materialize-template-gisariweb.blogspot.com/2016/02/rumah-tangga-bodoh-idiot.html Tidak ada komentar:

Kontributor